Minggu, 14 April 2013

Pengaruh Pemberian Seledri terhadap Penurunan Tekanan Darah

KTI SKRIPSI
Pengaruh Pemberian Seledri terhadap Penurunan Tekanan Darah

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang mengakibatkan angka kesakitan yang tinggi. Menurut Basha (2009, h.1) hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang mengakibatkan angka kesakitan atau morbiditas dan angka kematian atau mortalitas. Sedangkan menurut Sustrani, dkk (2009, h.12) hipertensi atau penyakit darah tinggi adalah gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkannya.
Sustrani, dkk (2009, h.12) mengatakan hipertensi sering kali disebut sebagai pembunuh gelap (silent killer) karena termasuk yang mematikan tanpa disertai dengan gejala-gejalanya lebih dahulu sebagai peringatan bagi korbannya.  Menurut WHO batas normal tekanan darah adalah 120–140 mmHg tekanan sistolik dan 80 – 90 mmHg tekanan diastolik. Seseorang dinyatakan mengidap hipertensi bila tekanan darahnya > 140/90 mmHg.  Tekanan darah yang tinggi merupakan salah satu faktor resiko untuk stroke, serangan jantung, gagal jantung, aneurisma arterial, dan merupakan penyebab utama gagal jantung kronis (Tekanan Darah Tinggi 2009). Dengan demikian hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yaitu > 140/90 mmHg.
Penelitian yang dilakukan oleh National Health and Nutrition Examination Surveys (NHANES 2005-2006) di Amerika Serikat menunjukkan bahwa sekitar 28,4% dari populasi orang dewasa menderita hipertensi dan prevalensi ini meningkat tajam dengan bertambahnya usia (Field 2008). Prevalensi hipertensi di Indonesia menurut  Survey Kesehatan Rumah Tangga / SKRT (2004), pada orang yang berusia 25 tahun ke atas menunjukkan bahwa 27% laki-laki dan 29% wanita menderita hipertensi (Akhmad 2010). Dengan demikian, penelitian yang dilakukan oleh NHANES (2005-2006) menunjukan adanya hubungan yang berarti antara prevalensi hipertensi dengan bertambahnya usia dibuktikan dengan jumlah prevalensi hipertensi yang selalu meningkat dengan bertambahnya usia, ini disebabkan karena semakin bertambahnya usia akan menyebabkan penurunan elastisitas dari pembuluh darah yang mengakibatkan tekanan darah menjadi meningkat. Sedangkan menurut SKRT (2004) menunjukan adanya hubungan yang berarti antara prevalensi hipertensi dengan jenis kelamin, ini disebabkan karena wanita lebih mudah mengalami stress dari pada laki-laki yang akan menyebabkan tekanan darah menjadi meningkat.
  Selain data diatas, Riset Kesehatan Dasar Nasional (2007) yang di lakukan oleh Departemen Kesehatan RI menunjukan prevalensi Nasional Hipertensi pada penduduk umur > 18 tahun adalah sebesar 29,8%  (Soendoro 2007). Penderita hipertensi di Propinsi Jawa Tengah menduduki peringkat ketiga setelah Propinsi Riau dan Propinsi Bangka Belitung. Berdasarkan data program pengamatan dan pencegahan Penyakit Tidak Menular (PTM) di Kabupaten tahun 2008, hipertensi menduduki peringkat pertama pada urutan jumlah kasus penyakit tidak menular yaitu sebesar 28.874. Sedangkan kasus penyakit hipertensi berdasarkan golongan umur di Kabupaten tahun 2008 pada lansia yang berumur 45-64 tahun sebesar 15.387. Dan pada umur > 65 tahun, sebesar 7.369 lansia menderita hipertensi. Menurut Sistem Informasi Manajemen Puskesmas/SIMPUS (2010) data hipertensi di Wilayah Tengah selama 2 bulan terakhir yaitu 543 orang, yang tersebar di lima kelurahan. Kelurahan dengan jumlah hipertensi tertinggi yaitu kelurahan dengan jumlah penderita 188 orang.
Penyebab penyakit hipertensi secara umum diantaranya aterosklerosis (penebalan dinding arteri yang menyebabkan hilangnya elastisitas pembuluh darah), keturunan, bertambahnya jumlah darah yang dipompa ke jantung, penyakit ginjal, kelenjar adrenal, dan sistem saraf simpatis, obesitas, tekanan psikologis, stres, dan ketegangan bisa menyebabkan hipertensi          (Marzuky 2009).
Akibat tekanan darah tinggi yang berlanjut dan tidak tertangani secara tepat, mengakibatkan jantung bekerja lebih keras, hingga otot jantung membesar. Kerja jantung yang meningkat menyebabkan pembesaran yang dapat berlanjut menjadi gagal jantung (heart failure). Selain itu, tekanan darah tinggi juga berpengaruh terhadap pembuluh darah koroner di jantung berupa terbentuknya plak (timbunan) aterosklerosis yang dapat mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah dan menghasilkan serangan jantung (heart attack) (Merdikoputro 2008). Untuk mencegah agar hipertensi tidak menyebabkan komplikasi lebih lanjut maka diperlukan penanganan yang tepat dan efisien. Menurut Marlia (2010) penanganan hipertensi secara umum yaitu secara farmakologis dan nonfarmakologis.
Penanganan secara farmakologis terdiri atas pemberian obat yang bersifat diuretik, simpatetik, betabloker, dan vasodilator dengan memperhatikan tempat, mekanisme kerja dan tingkat kepatuhan.  Penanganan secara farmakologis dianggap mahal oleh masyarakat, selain itu penanganan farmakologis juga mempunyai efek samping. Efek samping tersebut bermacam-macam tergantung dari obat yang digunakan. Sebagai contohnya, seperti yang telah disebutkan oleh Lyrawati (2008) bahwa efek samping dari obat Calcium Channel Blocker (CCB) yaitu kemerahan pada wajah, pusing dan pembengkakan pergelangan kaki karena efek vasodilatasi CCB dihidropiridin, nyeri abdomen dan mual karena terpengaruh oleh influks ion kalsium, oleh karena itu CCB sering mengakibatkan gangguan gastro‐intestinal yaitu konstipasi.
Penanganan non-farmakologis yaitu meliputi penurunan berat badan, olah raga secara teratur, diet rendah lemak & garam, dan terapi komplementer (Marlia 2009). Penanganan secara non-farmakologis sangat diminati oleh masyarakat karena sangat mudah untuk dipraktekan dan tidak mengeluarkan biaya yang terlalu banyak. Selain itu, penanganan non-farmakologis juga tidak memiliki efek samping yang berbahaya tidak seperti penanganan farmakologis. Sehingga masyarakat lebih menyukai penanganan secara non-farmakologis dari pada secara farmakologis (Marlia 2009).
Salah satu dari penanganan non farmakologis dalam menyembuhkan penyakit hipertensi yaitu terapi komplementer. Terapi komplementer bersifat terapi pengobatan alamiah diantaranya adalah dengan terapi herbal, terapi nutrisi, relaksasi progresif, meditasi, terapi tawa, akupuntur, akupresur, aromaterapi, terapi bach flower remedy, dan refleksologi (Sustrani, Alam, Hadibroto 2005, h. 74-105). Terapi herbal banyak digunakan oleh masyarakat dalam menangani penyakit hipertensi dikarenakan memiliki efek samping yang sedikit. Jenis obat yang digunakan dalam terapi herbal yaitu seledri atau celery ( Apium graveolens ), bawang putih atau garlic (Allium Sativum), bawang merah atau onion (Allium cepa), tomat (Lyocopercison lycopersicum), semangka (Citrullus vulgaris). (Sustrani, Alam, Hadibroto 2005, h. 74-105).
Seledri atau celery ( Apium graveolens ) merupakan salah satu dari jenis terapi herbal untuk menangani penyakit hipertensi. Masyarakat Cina tradisional sudah lama menggunakan seledri untuk menurunkan tekanan darah. Seledri mengandung apigenin  yang sangat bermanfaat untuk mencegah penyempitan pembuluh darah dan tekanan darah tinggi. Selain itu, seledri juga mengandung pthalides dan magnesium yang baik untuk membantu melemaskan otot-otot sekitar pembuluh darah arteri dan membantu menormalkan penyempitan pembuluh darah arteri.  Pthalides dapat mereduksi hormon stres yang dapat meningkatkan darah dikutip dari Afifah (2009).
Selain mengandung apigenin dan pthalides seledri juga mengandung gizi yang tinggi, vitamin A,B1, B2, B6 dan juga vitamin C. Seledri juga kaya pasokan kalium, asam folic, kalsium, magnesium, zat besi, fosfor, sodium dan banyak mengandung asam amino esensial. Pada pasokan kalium sangat bermanfaat untuk terapi darah tinggi. Pada 100 g seledri terkandung 344 mg kalium dan 125 mg natrium. Konsumsi makanan dengan perbandingan kalium dan natrium yang mencapai 3:1, sangat baik bagi penderita darah tinggi. Pada seledri perbandingan tersebut mencapai 2,75:1 sudah sangat mendekati rasio ideal untuk pencegahan Hipertensi dikutip dari Afifah (2009). Seledri juga sangat mudah dicari, harganya juga sangat terjangkau oleh masyarakat. Selain itu slederi juga tidak memiliki efek samping yang berbahaya. Oleh karena itu seledri sangat baik sebagai terapi pengobatan hipertensi.
Untuk pengobatan hipertensi caranya dengan mengambil 16 tangkai. Semuanya dicuci dan direbus dengan air bersih sebanyak 2 gelas minum atau setara dengan 400 ml. Kemudian rebus hingga ¾ bagiannya atau setara dengan 300 ml. Hasil rebusan tersebut diminum untuk satu hari, masing-masing ½ bagiannya menurut Muhammadan (2009, h. 173). Selain itu seledri juga dapat dibuat menjadi jus seledri. Caranya campurkan 250 g seledri segar dengan 2 buah apel hijau segar. Sebelum dijus seledri rebus terlebih dahulu lalu campur dengan apel lalu blender hingga halus. Minum dua hari sekali untuk penderita Hipertensi dikutip dari Afifah (2009).
Studi pendahuluan yang dilakukan penulis pada. tanggal 14 April , didapatkan data bahwa dari 188 orang di Kelurahan Tengah menderita hipertensi ringan sampai berat. Pada tanggal 27 April , peneliti melakukan studi pendahuluan kembali melibatkan 10 orang yang menderita hipertensi di Kelurahan Tengah yang mengalami hipertensi sejak 2 bulan yang lalu. Selama ini usaha yang mereka lakukan untuk mengatasi hipertensi pada kasus hipertensi ringan sampai berat adalah dengan mengurangi asupan garam dan menghindari makanan tinggi kolesterol. Peneliti melakukan pengukuran tekanan darah terhadap 10 orang tersebut, ternyata 8 dari 10 orang masih mengalami hipertensi. Jadi usaha yang mereka lakukan belum begitu efektif untuk menurunkan tekanan darah. Peneliti juga menanyakan tentang terapi seledri untuk hipertensi kepada 10 orang tersebut. Hasilnya dari 10 orang tersebut semuanya belum pernah mendapatkan terapi seledri.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengaruh seledri terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi di Kelurahan Tengah tahun .


B.    RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dalam penelitian ini peneliti membuat rumusan masalah sebagai berikut “Apakah pemberian rebusan seledri berpengaruh terhadap tekanan darah pada penderita hipertensi di Kelurahan Kecamatan Tengah Tahun ?”.

C.    TUJUAN PENELITIAN
1.    Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh seledri terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi di Kelurahan Tengah tahun .
2.    Tujuan Khusus
a.    Untuk mengetahui karakteristik penderita hipertensi di Kelurahan Tengah tahun .
b.    Untuk mengetahui gambaran tekanan darah sebelum diberikan seledri di Kelurahan Tengah tahun
c.    Untuk mengetahui gambaran tekanan darah sesudah diberikan seledri di Kelurahan Tengah tahun
d.    Untuk mengetahui perbedaan tekanan darah sebelum dan sesudah diberikan seledri di Kelurahan Tengah tahun .


D.    MANFAAT PENELITIAN
Hasil penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat:
1.    Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini dapat menambah khasanah pustaka mengenai pengaruh seledri terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi di Kelurahan Tengah.
2.    Manfaat Praktis
a.    Bagi peneliti
Dapat menambah ilmu pengetahuan dan memperdalam pengalaman peneliti tentang riset keperawatan serta pengembangan wawasan tentang pengobatan tradisional dengan mengkonsumsi rebusan seledri.
b.    Bagi penderita
Hasil penelitian dapat menjadi bahan pertimbangan untuk memilih pengobatan alternatif yang tepat dan praktis dalam menurunkan tekanan darah yaitu dengan mengkonsumsi rebusan seledri.
c.    Bagi peneliti lain
Penelitian ini diharapkan dapat merangsang penelitian tentang pengobatan alternatif untuk penurunan tekanan darah yang lebih efektif diberikan kepada penderita Hipertensi.
d.    Bagi Masyarakat di Kelurahan Tengah
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan salah satu alternatif pengobatan untuk menurunkan tekanan darah pada penderita Hipertensi.
silahkan download KTI SKRIPSI
Pengaruh Pemberian Seledri terhadap Penurunan Tekanan Darah
KLIK DIBAWAH 

Tidak ada komentar: